Seputar VPS dan Perbedaannya – Bagian Kedua

Pada artikel sebelumnya, kita sudah mebahas hal-hal dasar mengenai VPS dari fungsi dan kegunaan hingga cara menguji performa VPS. Lalu disini kita akan mebahas mengenai tipe hypervisor dan tipe virtualisasi yang paling banyak ditawarkan oleh provider VPS.

Hypervisor adalah suatu bagian dari software ataupun firmware yang dapat membuat dan menjalankan mesin virtual. Secara dasar ada dua macam tipe hypervisor yaitu:

  • Type 1
  • disebut juga tipe native, yaitu sebuah hypervisor yang berjalan secara langsung diatas sebuah hardware yang menjadi host-nya untuk mengontrol hardware dan memanage guest-nya (Sistem Operasi yang berjalan didalam sebuah VPS). Yang termasuk dalam hypervisor tipe pertama adalah Citrix XenServer, VMware ESX/ESXi, KVM, dan Microsoft Hyper-V

  • Type 2
  • disebut juga sebagai tipe hosted, yaitu sebuah hypervisor yang berjalan diatas sistem operasi yang berjalan pada suatu host server. Sehingga hypervisor berjalan pada lapisan kedua sedangkan guest-nya (Sistem Operasi dalam VPS) berjalan pada lapisan ketiga. Yang termasuk dalam hypervisor tipe kedua adalah OpenVZ, KVM, VirtualBox, dan VMWare Workstation.

Ads Banner - VPS murah mulai dari 10 ribuan saja

Teknik Atau Metode Virtualisasi Pada VPS

Teknik atau metode virtualisasi menentukan efisiensi suatu node dan kinerja VPS, ada beberapa tipe VPS berdasarkan teknik virtualisasinya:

  • Hardware-assisted Virtualization
  • Merupakan platform virtualisasi yang diciptakan untuk menjalankan virtualisasi secara penuh dengan lebih efisien, menggunakan bantuan dari kapabilitas hardware, terutama prosesor dari host servernya. Virtualisasi penuh digunakan untuk mensimulasikan environtment hardware secara utuh dan lengkap menggunakan set instruksi yang sama dengan host servernya yang diekseskusi dalam lingkungan yang terisolasi. Contohnya adalah Xen HVM, Linux KVM, dan Microsoft Hyper-V

  • Full Virtualization
  • Hampir sama dengan jenis hardware-assisted virtualization, namun metode virtualisasi ini tidak memerlukan hardware dengan kemampuan khusus. Contohnya adalah VMWare Workstation, VirtualBox, dan Microsoft Virtual PC.

  • Paravirtualization
  • Adalah teknik virtualisasi yang menyajikan antarmuka perangkat lunak untuk mesin virtual yang mirip tetapi tidak identik dengan perangkat keras yang mendasarinya, dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensinya dengan menyederhanakan set instruksi. Paravirtualization tidak selalu mensimulasikan hardware, tetapi menggunakan suatu API/set instruksi khusus, oleh karena itu teknik paravirtualisasi membutuhkan host OS dan guest OS yang dimodifikasi.

  • Operating System Virtualization/Container Based Virtualization
  • Adalah teknik virtualisasi padal level Sistem Operasi, dimana kernel dari suatu Sistem Operasi memungkinkan untuk mengisolasi beberapa user-space. Oleh karena itu teknik ini juga sering disebut sebagai container, VE, maupun jails. Sehingga dari sudut pandang penggunanya terlihat seolah-olah sebagai server yang sebenarnya. Pada sistem Unix, teknologi ini dapat dianggap sebagai implementasi lebih lanjut dari mekanisme chroot standar. Selain mekanisme isolasi, kernel sering menyediakan fitur manajemen sumber daya untuk membatasi dampak dari kegiatan satu container di container lainnya. Sehingga dengan teknik ini, Sistem Operasi yang berjalan pada guest (didalam VPS) juga harus menggunakan kernel yang sama dengan host-nya. Contohnya OpenVZ, Virtuozzo, Linux-VServer, dan LXC.

Dari sekian banyak hypervisor, yang paling sering dijumpai dan ditawarkan oleh provider VPS adalah Xen HVM, Xen PV, KVM, Microsoft Hyper-V, Virtuozzo dan OpenVZ.

Kekurangan dan Kelebihan Dari Masing-Masing Teknik Virtualisasi

Xen HVM dan KVM menggunakan teknik Hardware-assisted Virtualization yang juga termasuk ke dalam kategori Full Virtualization, virtualisasi ini menawarkan isolasi secara sempurna, dimana aktivitas pada suatu mesin virtual hampir tidak mempengaruhi aktivitas mesin virtual lainnya. Selain itu tipe ini memberikan fleksibilitas paling tinggi terhadap guest OS yang dapat dijalankan didalam lingkungan virtualnya, dengan kata lain virtualisasi dijalankan secara penuh sehingga memungkinkan OS yang berbeda dijalankan didalam lingkungan virtual. Namun kelemahannya adalah membutuhkan dukungan hardware secara khusus (pada tipe assisted) dan overhead yang cukup tinggi, sehingga membatasi efisiensi dan skalabilitas pada host server.

Xen PV menggunakan teknik Paravirtualization yang juga menawarkan isolasi secara menyeluruh, overhead yang lebih rendah dibandingkan dengan tipe Full Virtualization namun kekurangannya adalah Xen PV hanya mendukung OS Linux saja.

Virtuozzo dan OpenVZ menggunakan teknik Container Virtualization, tidak menawarkan isolasi secara penuh, file system merupakan lingkungan chrooted, namun overheadnya sangat rendah, sehingga dalam porsi yang benar OpenVZ menawarkan efisiensi dan performa paling tinggi.

Memilih Tipe VPS

Lalu dengan adanya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tipe apa yang cocok untuk saya? Hal itu tergantung kebutuhan dan keperluan penggunaannya. Terlepas dari segi overselling (mengenai hal ini akan dibahas kemudian) semua VPS akan berjalan dengan baik apapun tipe virtualisasinya.

Saya sendiri sebagai penulis lebih menyukai VPS OpenVZ apabila saya ingin menggunakannya sebagai webserver untuk menghosting website ataupun blog. Alasannya adalah:

  • Tidak perlu repot-repot menginstal sistem operasi secara manual sehingga dapat menghemat waktu apabila terjadi kesalahan konfigurasi saya tinggal merebuild VPS yang saya gunakan.
  • Apabila diperlukan untuk merestart vps, prosesnya sangat singkat, tidak sampai hitungan menit, sehingga downtime hampir tidak terdeteksi.
  • Dengan harga yang sama, saya mendapatkan alokasi CPU yang lebih besar, disk space yang lebih banyak, sehingga ketersedian resource cukup leluasa. Dengan catatan bahwa provider VPS tidak meng-oversell VPS secara berlebihan.

Tetapi apabila saya menggunakan VPS untuk backup storage ataupun remote desktop, saya lebih menyukai jenis KVM, sebab saya dapat membuat partisi untuk memisahkan data dengan OS. Sehingga apabila terjadi kerusakan pada OS didalam VPS, saya tidak perlu repot-repot untuk memindahkan data ke VPS lainnya. Selain itu privasi data lebih terjamin sebab partisi dapat dienkripsi.

Memilih Data Center

Untuk lokasi VPS saya lebih senang memilih VPS yang berlokasi di luar negeri, terutama di USA West Coast (misalnya Los Angeles, Seattle, SanJose atau Vegas) ataupun di Singapore, mengapa?

  • VPS luar negeri tidak membeda-bedakan trafik atau bandwidth, kecepatan akses relatif netral dari hampir semua negara di belahan dunia. Sedangkan VPS dengan data center lokal itu timpang sekali, hanya cepat diakses dari Indonesia saja.
  • Untuk lokasi west-coast, latency tidak terlalu tinggi, menggunakan akses internet speedy, hanya 10 – 15 hop saja, dengan latency sekitar 200ms. VPS Singapore lebih rendah lagi latencynya, hanya berkisar 40 ms saja.
  • Harga lebih terjangkau, karena faktor harga bandwidth, listrik yang lebih murah di luar negeri sana.
  • Lebih multifungsi, sebab konten kebanyakan berasal dari luar negeri, jadi untuk memindahkannya, lebih mudah dengan meremote-nya menggunakan VPS. Semua file/data yang bersumber dari internet dapat diupload secara remote menggunakan VPS, sehingga prosesnya lebih cepat dan tidak perlu memboroskan bandwidth dari koneksi internet di rumah.

Jadi sudah kurang relevan lagi apabila ada provider yang menyebutkan kalau kita memiliki sebuah website pada VPS dengan visitor yang kebanyakan dari Indonesia maka lebih baik menggunakan VPS IIX. Sebab suatu saat, apabila kita akan mengekspand website kita untuk juga bisa mendapatkan visitor dari luar negeri, tentu dengan menggunakan VPS dariSingapore, kita tidak perlu khawatir lagi soal bandwidth internasional yang diberlakukan oleh kebanyakan provider di Indonesia.

Oleh karena kecepatan akses baik dari Indonesia dan dari luar negeri juga baik, maka provider VPS di Indonesia perlu berbenah agar tidak kalah saing dengan provider diluar negeri, terutama dalam hal bandwidth dan juga kestabilan pasokan listrik di datacenternya.

Overselling pada VPS

Overselling dalam dunia perhostingan adalah tindakan atau kegiatan untuk menjual resource atau sumberdaya lebih besar dari resource atau sumber daya yang tersedia. Sebagai contoh, provider A memiliki server shared hosting dengan kapasitas harddisk 250 GB, lalu ia menjual akun reseller dengan spesifikasi 50 GB per user kepada 10 orang, tentu provider tersebut melakukan overselling, sebab ia menjual 500 GB space kepada reseller sedangkan kapasitas server yang dimiliki hanya 250 GB. Demikian pula dengan VPS yang tidak terlepas dari problem overselling.

Sering saya menemukan pendapat terutama dari provider besar di Indonesia yang menyatakan bahwa tipe VPS tertentu (Xen atau KVM) tidak dapat di-oversell, sehingga resource terjamin. Benarkah begitu? Tentu saja tidak, saya pernah membaca sebuah artikel yang dibuat oleh salah satu provider VPS di luar negeri bahwa semua tipe VPS memungkinkan dilakukan overselling. Dan artikel tersebut masuk akal juga secara logis.

Apa indikasi utama sebuah node VPS tidak dioversell? Jawabannya adalah harga. Apakah oversell adalah sesuatu yang buruk? Bisa ya bisa juga tidak. Apabila tidak berlebihan, oversell adalah seuatu yang wajar, mengingat tidak semua user pengguna VPS dalam satu node yang sama mengunakannya secara aktif terus menerus.

Lalu apa bukti bahwa semua tipe VPS dapat dioversell? Simpel sekali jawabannya:

Katakanlah provider A memiliki sebuah node server dengan spesifikasi CPU E3-1230v2 3.3 GHz, 32 GB RAM, 4x HDD 3TB WD-RE4 SATA 3 RAID 10, LSI RAID cards, 1 Gbps Uplink. Lalu dijual dalam bentuk VPS bertipe KVM dengan spesifikasi 1vCore, RAM 1024 MB, HDD 100 GB sebanyak 24 VPS. Apakah itu bentuk overselling?

Secara kasat mata tidak, sebab sekilas terlihat bahwa tidak ada resource yang diovercommit oleh provider. Namun perlu diingat, 24 VPS dalam satu node yang harddisknya hanya menggunakan 4X HDD dengan mode RAID10, dimana kemungkinan sequential read/writenya hanya di kisaran 250 MB/s. Jadi tidak mengherankan apabila node tersebut hampir semuanya terisi, maka bila di uji dengan dd command hasilnya hanya berkisar 20 hingga 40 MB/s saja! Perlu diingat juga, untuk random read/write pastinya jauh lebih lambat dari sequential read/write.

Disk I/O yang hanya berkisar 20-40 MB/s boleh dibilang merupakan bentuk overselling juga, sebab apabila kita membuka sebuah aplikasi, melakukan update paket, menyebabkan adanya I/O wait yang ditandai oleh tingginya nilai %wa. Oleh karena itu jangan sampai terkecoh dengan gimmick marketing.

VPS IIX KVM 1024 MB RAM 1 CPU

root@iix2:~# dd if=/dev/zero of=test bs=64k count=16k conv=fdatasync
16384+0 records in
16384+0 records out
1073741824 bytes (1.1 GB) copied, 52.3511 s, 20.5 MB/s
root@iix2:~#

Dengan hasil seperti diatas, jelas sangat sulit untuk mengutilisasi bandwidth dari 1 Gbit port seperti yang diiklankan oleh provider tersebut. Walau untuk keperluan menjalankan webhosting/blog pribadi dengan trafik rendah hal ini bukanlah suatu masalah yang berarti.

VPS USA KVM 512 MB RAM 2 CPU

root@simple:~# dd if=/dev/zero of=test bs=64k count=16k conv=fdatasync
16384+0 records in
16384+0 records out
1073741824 bytes (1.1 GB) copied, 2.00314 s, 536 MB/s
root@simple:~#

Tidak bermaksud menjelekan provider VPS di Indonesia, karena tentu sekali lagi memang ada harga ada kualitas, cukup wajar untuk kisaran range harga dibawah Rp.200.000. VPS IIX lainnya yang menjadi andalan saya pun ada yang memiliki performa tinggi, tentu dengan harga yang cukup menguras kantong.

Ads Banner - VPS murah mulai dari 10 ribuan saja

Artikel Terkait

[related_posts limit=”4″]

 

9 Comments

  1. sandy 30 Apr 2015 12:33
    • Venantius venantius 30 Apr 2015 12:50
  2. Andre 07 Apr 2015 21:30
    • Venantius venantius 07 Apr 2015 23:01
  3. jendelanet 24 Oct 2014 13:51
    • Venantius venantius 14 Nov 2014 13:51
  4. Reihan 05 Jul 2013 01:09
    • Venantius venantius 05 Jul 2013 06:53
  5. Arthur Lee 28 Jun 2013 02:05

Leave a Reply