Minat Baca Masyarakat Indonesia Sangat Rendah

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia

Minat baca masyarakat di Indonesia sangat rendah, hampir 90 persen penduduk Indonesia tidak gemar membaca. Apakah benar seperti itu kenyataannya? Kalau saya melakukan pencarian di internet soal “malas membaca” banyak sekali artikel yang mengungkapkan soal minat baca dari kebanyakan masyarakat di Indonesia. Belakangan ini beberapa media berita ternama juga mengangkat masalah minat baca.

Tentu saja saya pun setuju dengan kenyataan ini, dan apakah Anda juga setuju? Kalau Anda tidak setuju berarti Anda termasuk bagian yang 10 persennya. Sebagai referensinya Anda bisa membaca beberapa tautan dibawah ini:

Anak Indonesia Paling Malas Baca Buku – Okezone.
90 Persen Penduduk Indonesia Malas Membaca – Metrotvnews.
Mengapa Orang Indonesia Malas Membaca? – Kompasiana.

Dan masih banyak referensi lain mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yang dapat Anda googling sendiri. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat bangsa ini tertinggal beberapa langkah.

Minat Baca Masyarakat Indonesia Sangat Rendah

Berdasarkan data dari Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, tercatat bahwa 90 persen penduduk Indonesia di usia 10 tahun keatas paling senang menonton televisi, namun tidak suka membaca buku. Sri Sularsih sebagai kepala kantor Perpustakaan Nasional mengatakan bahwa masyarakat di negara maju rata-rata membaca antara 20 hingga 30 judul buku per tahun. Sedangkan untuk masyarakat kita, yang masih memiliki minat mebaca hanya di usia dini.

Berdasarkan survey UNDP, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2014 menempati urutan 108 dari 187 negara di dunia. IPM Indonesia lebih tinggi dibandingkan Miyanmar, Laos, Kamboja, Vietnam dan Filipina. Tapi IPM Indonesia kalah jauh bila dibandingkan Singapura yang menempati posisi 9, dan Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand.

Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Baca

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, wilayah negara yang luas dan jumlah penduduk besar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi buruknya prestasi Indonesia dalam hal minat membaca. Bahkan, keadaan makin parah pada daerah terpencil dan minim akses transportasi. Anies mengakui, tidak hanya minat baca, minat anak-anak Indonesia ke perpustakaan juga rendah. Bahkan, fasilitas perpustakaan memadai di beberapa sekolah pun tidak dimanfaatkan dengan baik.

Namun menurut saya, hiburan televisi adalah salah satu faktor yang juga sangat mempengaruhi rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk membaca. Kalau dari pengamatan saya sendiri, dan juga melalui beberapa referensi artikel yang pernah ditulis di website lainnya. Masyarakat Indonesia lebih tertarik untuk melihat informasi dalam bentuk visual (dalam hal ini adalah video atau tayangan televisi).

Jadi untuk mengatasi masalah minat baca yang rendah, maka sebuah informasi bisa dibuat dalam bentuk visual. Tentunya dengan kemasan yang menarik, sehingga tidak membosankan untuk disimak. Sayangnya, pada saat ini kebanyakan stasiun televisi lebih senang menayangkan sinetron dan hiburan lainnya, ketimbang menyuguhkan tayangan yang mendidik dan bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Kalau kita lihat di era 90-an, TPI (saat ini berganti menjadi MNCTV) sering menayangkan program acara pendidikan. Membahas pelajaran-pelajaran sekolah hingga tayangan dokumenter seperti Eyewitness. Namun saat ini stasiun televisi tersebut berubah haluan, dimana isinya adalah dangdut dan sinetron (entah benar atau tidak, saya sudah lama sekali tidak pernah mengikuti tayangan di televisi, selain berita).

Di internet, situs yang menyuguhkan informasi dan pengetahuan sepertinya tidak banyak dilirik. Siapa sih yang mau membaca tulisan yang panjangnya sampai harus scroll mouse kebawah?. Nah coba kalau informasi dan pengetahuan disuguhkan dalam bentuk animasi bergerak atau video, pastinya akan lebih menarik.

Ya, pasti menarik sekali! Namun apakah ini bisa mendorong minat masyarakat, terutama usia pelajar? Sepertinya masih jauh! Sebab alasannya nggak bakalan jauh-jauh dari “ngabisin kuota internet” atau “nunggu buffernya kelamaan”. Kalau di usia muda saja sudah malas untuk membaca, tentu kebiasaan minat baca yang rendah akan terbawa sampai tua.

Pengalaman Saya Terkait Rendahnya Minat Baca Masyarakat

Saya sebagai salah satu penulis artikel di website ini (walau nggak banyak juga sih), terutama artikel yang berhubungan dengan dunia komputer, internet, dan jaringan. Biasanya tulisan saya pada umumnya cukup panjang, sehingga banyak orang yang enggan membacanya secara keseluruhan.

Cukup banyak komentar yang isinya bertanya sesuatu, padahal sebenarnya kalau dipahami isinya dengan membaca secara keseluruhan, maka seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi. Jadi banyak komentar yang seringkali saya abaikan. Pengennya sih saya menulis tutorial lebih panjang lagi sampai dengan detil-detilnya. Namun apa daya, waktu yang saya miliki terbatas dan juga semakin panjang tulisan, mungkin semakin ilfeel bagi pembacanya.

Selain menulis artikel dan tutorial, saya juga memiliki beberapa usaha jasa dan jualan online yang saya informasikan di website ini. Nah dari sekian ratus pelanggan tiap bulannya, sebagian diantaranya masih banyak yang bertanya tentang hal-hal yang sebenarnya sudah dijelaskan disetiap halaman produk atau jasa yang saya tawarkan.

Bahkan untuk hal yang sangat penting sekali, biasanya saya bold dengan tulisan berwarna merah. Hal yang paling sering ditanyakan ulang misalnya: soal alamat lengkap, harga, dan bagaimana cara dan ketentuan pemesanannya.

Nah yang nggak habis pikir adalah kok bisa ya dapat pin BB, nomor hp, whatsapp, atau line yang saya gunakan? Padahal saya nggak pernah lho promosikan dengan spamming via bulk sms atau nge-BC (broadcast message) di BBM, karena walaupun mungkin terlihat sepele, tapi hal seperti bisa mengganggu kenyamanan pelanggan.

Saya selalu berasumsi kalau bisa dapat pin BB atau whatsapp yang saya gunakan, maka calon pelanggan tersebut sudah membaca informasi mengenai produk atau jasa yang saya tawarkan di website ini secara keseluruhan. Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu. Jadi mereka adalah termasuk yang (mohon maaf) malas membaca.

Padahal dengan membaca informasi secara utuh, Anda bisa mengetahui cocok atau tidaknya produk atau jasa yang saya tawarkan. Baik dari segi harga maupun ketentuan yang ada. Apalagi dalam bertransaksi secara online, Anda harus lebih berhati-hati dengan membaca informasi yang disampaikan secara seksama. Sebab banyak korban penipuan online yang salah satunya disebabkan karena malas membaca dan meneliti sebuah informasi yang disampaikan.

 

Leave a Reply