Cara Merawat Dan Meminimalisir Kerusakan Harddisk

Harddisk atau sering disingkat HDD, menjadi salah satu perangkat media storage/penyimpanan data utama dalam sebuah komputer, selain karena kapasitasnya yang besar, performa read dan write pada harddisk jauh lebih cepat ketimbang media storage lainnya (misalnya saja USB Flashdisk atau optical media storage seperti CD, DVD dan Bluray disc). Selain itu pula HDD memiliki reabilitas yang lebih tinggi karena data dapat ditulis, dibaca, dan dihapus berulang-ulang hingga milyaran kali.

Ilustrasi Check-up Hardisk

Gambar 1. Ilustrasi Check-up Hardisk.

Walaupun saat ini secara perlahan posisi HDD sebagai media storage utama telah digantikan oleh SSD (Solid State Disk) yang menawarkan performa jauh lebih cepat daripada harddisk konvensional. Namun saya tetap yakin bahwa posisi HDD sebagai media storage masih banyak diminati oleh pengguna komputer. Karena walaupun performanya jauh lebih lambat, HDD memiliki keunggulan pada perbandingan harga dan kapasitas yang jauh lebih rendah ketimbang SSD.

Sebagai perangkat media storage, tentu saja HDD tidak luput dari kerusakan yang disebabkan oleh faktor usia pemakaian maupun faktor lainnya. Berbagai cara dan upaya dilakukan untuk mengembalikan data pada harddisk yang rusak, namun pada umumnya hasilnya tidak seperti yang diinginkan. Selain membuang waktu dan biaya untuk merecovery data, lebih baik kita meminimalisir penyebab kerusakan pada HDD. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Lalu apa saja yang perlu dilakukan?

Langkah Perawatan

Memang sesuatu yang dibuat manusia tidaklah abadi, begitu juga halnya dengan HDD, tidak ada yang tahu secara pasti kapan perangkat tersebut akan rusak. Namun tetap ada baiknya kita memperlakukan harddisk dengan baik untuk memperpanjang masa pakainya. Berikut ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Supply daya HDD
  • Salah satu faktor yang paling umum yang menjadi penyebab kerusakan HDD adalah karena supply daya yang tidak stabil karena penggunaan PSU yang kualitasnya tidak baik, sehingga merusak komponen elektronik pada HDD. Oleh karena itu gunakan PSU yang berkualitas baik.

  • Pemasangan kabel data
  • Kadang kita ingin interior casing komputer kita terlihat rapi, tidak ada kabel yang semrawut sehingga kamu berusaha dengan cara apapun agar posisi kabel terlihat rapi, namun perhatikan pemasangan kabel data pada HDD kamu, jangan sampai kebel tertekuk paksa atau terjepit, karena akan menimbulkan kerusakan pada kabel yang secara tidak langsung juga dapat mempengaruhi kinerja HDD dan menimbulkan kerusakan.

  • Temperatur dan air flow pada casing
  • Suhu yang ideal untuk HDD adalah dalam keadaan beroperasi adalah 25°C hingga 45°C, apabila terlalu dingin kemungkinan akan terjadi pengembunan dan apabila terlalu panas dapat menyebabkan menyebabkan kerusakan komponen HDD. Namun ada baiknya menjaga suhu operasi harddisk berada dibawah 40 °C, sebab kemungkinan suhu harddisk akan meningkat ketika harddisk tersebut bekerja secara penuh. Untuk itu perhatikanlah sirkulasi udara di dalam casing komputer kamu.

  • Partisi
  • Mempartisi harddisk memiliki beberapa keuntungan dan kerugian. Oleh karena itu sebaiknya rencanakanlah dengan baik sebelum Anda membuat partisi. Ada baiknya kamu membuat partisi berdasarkan tipe/ukuran data yang paling dominan, misalnya partisi pertama untuk sistem operasi, partisi kedua untuk menyimpan dokumen dan koleksi foto kamu, dan partisi terakhir untuk penyimpanan file ISO dan HD Movie. Mengapa demikian? karena hal ini berhubungan dengan fragmentasi data pada HDD kamu. Fragmentasi akan lebih sering terjadi pada partisi yang kondisi datanya dinamis seperti partisi pada sistem dan juga pada partisi yang berisi data dengan ukuran yang tidak seragam.

  • Fragmentasi Data
  • Seringkali saya membaca banyak tips pada blog-blog yang menganjurkan untuk melakukan defrag partisi secara rutin, entah tiap minggu atau tiap bulan agar HDD lebih awet. Hal itu salah kaprah dan sangat tidak mendasar, itu hanyalah mitos saja. Perlu diketahui partisi yang mengalami banyak fragment apabila diakses akan membuat HDD bekerja lebih keras, namun proses defrag sendiri juga membuat HDD bekerja keras. Jadi, langkah yang tepat adalah menentukan partisi terlebih dahulu seperti yang disebutkan pada poin sebelumnya, selanjutnya kamu hanya perlu mendefrag partisi yang digunakan untuk sistem saja, karena memang partisi sistem yang akan lebih sering diakses dan banyak mengalami perubahan akibat aktifitas sistem operasi (automatic update, log file, system restore, dan temporary data).

Sebagai gambarannya, kita dapat melihat perbandingan dibawah ini antara pengaruh isi dari suatu partisi dengan terjadinya fragmentasi data.

Fragmentasi Partisi
Partisi yang dinamis dengan tipe dan ukuran file yang beragam.

Fragmentasi Partisi
Partisi dengan tipe dan ukuran file yang beragam.

Fragmentasi Partisi
Partisi dengan tipe dan ukuran file yang sejenis.

Dari screenshot diatas dapat kita lihat bahwa partisi yang paling banyak mengalami fragmentasi adalah partisi sistem (C:), dimana file yang ada didalam partisi tersebut berubah-ubah, dan ukurannya pun sangat beragam, mulai dari log file yang berukuran hanya beberapa bytes hingga file lainnya yang ukurannya mencapai ratusan megabytes. Sedangkan untuk partisi (G:) hanya didominasi oleh file berukuran besar (ukuran rata-ratanya 2GB hingga 4GB), sehingga hampir tidak mengalami fragmentasi dan saya pun sampai saat ini belum pernah melakukan defragmentasi pada partisi ini, walaupun data didalamnya selalu bertambah setiap harinya.

Selain melakukan upaya diatas, kamu juga dapat memanfaatkan fitur S.M.A.R.T pada harddisk. Fitur ini sangat bermanfaat sebagai tolak ukur kondisi harddisk yang kamu gunakan dan juga dapat memberikan peringatan dini kepada pengguna apabila harddisk mengalami kerusakan mekanis, sehingga kamu dapat segera melakukan backup data apabila terdapat gejala kerusakan pada harddisk kamu. Untuk menganalisa parameter S.M.A.R.T pada harddisk akan dibahas pada artikel selanjutnya.

Artikel Terkait

[related_posts limit=”5″]

 

Leave a Reply