Apakah Layanan Rekber Masih Menjadi Solusi Aman Berbelanja Online?

Layanan Rekber FJB Kaskus menuai masalah baru. Beberapa waktu yang lalu sempat muncul sebuah kasus yang sangat ramai diperbincangkan. Kasus ini mencuat dan menjadi salah satu headline di media ternama, bahkan hingga masuk di pemberitaan stasiun televisi. Adalah BlackPanda, yaitu sebuah usaha layanan rekening bersama (rekber) yang dimiliki oleh member Forum Kaskus bernama Roy Widya.

Kasus mengenai layanan rekber BlackPanda ini berawal dari surat pembaca yang berisi komplain dari salah satu pengguna jasa layanan rekber ini karena dana belum cair padahal pembeli sudah menerima barang dan mengkonfirmasinya. Isu yang berkembang menjadi sebuah laporan penipuan, dimana pemilik rekber BlackPanda melarikan uang para nasabahnya.

Rekber FJB Kaskus

Hal tersebut diketahui sejak beberapa hari lalu, muncul sebuah thread di Kaskus yang menyebutkan bahwa mereka sedang mencari sang pemilik rekber, Roy Widya. Berdasarkan perhitungan salah satu KasKuser, dana yang telah dilarikan Roy berjumlah lebih dari Rp400 juta. Beberapa orang menyebutkan bahwa Roy menggunakan dana tersebut untuk investasi dan investasinya berakhir dengan kerugian, karena itulah dia tidak dapat mengembalikan uang yang dititipkan kepadanya. Namun entah benar atau tidak, yang jelas kasus semacam ini sudah seringkali terjadi baik di forum maupun FJB Kaskus. Bahkan tidak hanya sebatas member, moderator dan super moderator di Forum Kaskus pun sempat terlibat dalam kasus penipuan terhadap member Kaskus.

Awal istilah rekening bersama (rekber) ini timbul sebagai jawaban akan kebutuhan transaksi online yang aman. Diawali ketika buyer membeli barang via lapak FJB Kaskus dengan cara mentransfer langsung, dimana sistem ini membawa kekhawatiran karena si penjual bukan seorang trusted seller. Perlu diingat juga bahwa mindset mengenai “trusted seller”, yaitu member yang sudah iso, punya banyak cendol, umur id sudah tua, tag donator, dan segudang testimonial adalah mindset yang diciptakan oleh para kaskuser sendiri.

Memang dengan kondisi tersebut, hal itu bisa meyakinkan calon buyer untuk lebih percaya dengan “trusted seller” dibandingkan dengan seller yang belum iso, nggak punya cendol berjejer (atau bahkan hanya punya bata merah), member baru, dan bahkan belum ada yang memberikan testimonial di lapak dagangan di FJB Kaskus. Namun itu tidak menjamin 100%, bahwa seller tersebut terpercaya, atau seller tersebut tidak bisa dipercaya. Mengapa demikian?

Begitu kuatnya mindset yang sudah tercipta disana. Dan kalau kita perhatikan juga disana, cendol bisa diperjualbelikan (ada lho jasa yang menawarkan cendol, entah via visitor message atau via private message). Begitupula halnya dengan testimonial di FJB pun bisa diperjualbelikan. Nggak percaya? silahkan googling dengan keyword: “jasa testimonial kaskus” atau “jasa cendol kaskus”.

Cara kerja sistem rekening bersama (rekber)

Kembali ke masalah soal rekening bersama ini. Agar memberi rasa aman kepada pembeli, maka munculah istilah rekber. Rekber sendiri tidak lain adalah escrow service yang umum dijumpai di luar negeri. Sistem ini berfungsi sebagai penengah atau pihak ketiga dari transaksi yang dilakukan antara pembeli dengan penjual. Jadi pembeli tidak mentransfer uangnya ke penjual, melainkan dana akan masuk ke rekening bersama yg dimiliki pihak rekber sebagai penjamin transaksi. Setelah barang yangg di beli sudah sampai terkirim ke alamat pembeli, maka selanjutnya pembeli akan mengirimkan konfirmasi kepada rekber, sehingga penjual bisa mencairkan uangnya. Tentu saja dengan sistem ini, pihak rekber memberi tambahan biaya administrasi, yang besarnya bervariasi, tergantung aturan yang ditetapkan oleh rekber. Biaya administrasi ini bisa dibebankan kepada pembeli maupun penjual, tergantung kesepakatan antara pihak penjual dengan pembeli.

Apakah Layanan Rekber Masih Menjadi Solusi Aman Belanja Online?

Bisa ya bisa juga tidak, hal itu tergantung dari kredibilitas penyedia layanan rekber tersebut. Semoga kedepannya hal ini tidak terulang kembali. Dengan kasus yang terjadi belakangan ini saja, mungkin rekber lain yang lebih jujur juga terkena getahnya. Sebab seperti yang saya bicarakan sebelumnya, sebuah mindset mudah sekali terbentuk di antara kaskuser, karena Kaskus merupakan sebuah komunitas forum terbesar di Indonesia.

Saat ini memang sistem toko online (e-commerce) di Indonesia sedang booming. Hanya saja saya sendiri kurang yakin apakah karena hanya sedang mengikuti tren ataukah memang digarap secara serius. Sebut saja Tokopedia, Lazada, Bukalapak, dan Blibli yang merupakan contoh dari online store skala besar dimana perputaran uang yang terjadi sangat besar setiap harinya. Tokopedia contohnya, memiliki sebuah rekening official dimana berfungsi seperti rekber yg akan menjamin transaksi nasabahnya dengan aman. Namun apakah menjamin 100%? Tentu saja tidak!

Sebelumnya ada sebuah layanan rekber yaitu Inapay, kalau saya lihat dari segi websitenya saja, sepertinya Inapay digarap secara lebih serius dibandingkan dengan rekber-rekber yang ada di Kaskus. Inapay menggunakan domain co.id, yang artinya paling tidak memiliki badan usaha resmi dengan NPWP dan SIUP. Selain juga dari sertifikasi SSL yang digunakan berjenis EV SSL (Extended Validation SSL).

Contoh website dengan EV SSL ditandai dengan padlock hijau

Berbeda sekali dengan Tokopedia atau Bukalapak yang hanya menggunakan DV SSL untuk pengamanan websitenya dan bahkan masih banyak website e-commerce terkenal yang tidak menggunakan protokol https. Namun Inapay hanya bertahan selama kurun waktu 3 tahun, walau saat ini websitenya masih aktif. Mereka menjelaskan bahwa “… banyak tantangan dalam dunia escrow yang belum terpecahkan, mulai dari Edukasi sampai Regulasi yang sampai saat ini menjadi tantangan terbesar kami …”. Mungkin selain masalah regulasi di Indonesia yang hingga kini belum jelas, bisa jadi dikarenakan kurang mampu bersaing dengan rekber yang sudah ada lebih dahulu di Kaskus. Kembali lagi ke soal kaskus adalah forum komunitas terbesar di Indonesia, suatu mindset akan lebih mudah terbentuk dari suatu komunitas yang besar.

Boomingnya Toko Online di Indonesia dan Belum Adanya Regulasi Pemerintah

Apakah sudah ada regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah soal e-commerce? RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah) soal e-commerce masih jauh dari kata selesai. Dengan demikian belum ada payung hukum yang jelas yang bisa menjamin baik pembeli maupun penjual mengenai perputaran uang pada transaksi e-commerce. Dengan maraknya penipuan yang terjadi pada transaksi online, bahkan dilakukan oleh penyelenggara jasa rekening bersama! Oleh karena itu disinilah pentingnya peran pemerintah sebagai regulator.

Kalau kita melihat misalnya pada sebuah bank perkreditan rakyat skala kecil saja harus memiliki ijin mendirikan usaha perbankan selain juga harus menjadi peserta LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Fungsi dan tujuannya adalah melindungi nasabah dari kejadian penipuan oleh bank itu sendiri. Lalu bagaimana dengan penyelenggara rekber yang ada di Kaskus? Tokopedia? Bukalapak? Lazada? Rakuten?

Coba kalau kita berpikir lebih jauh, siapakah pemilik Tokopedia, Lazada, Rakuten, Bukalapak, Blibli, dan sebagainya? Mungkin tidak terlalu penting bagi Anda untuk mengetahuinya. Nah kalau kita cermati, misalnya saja Tokopedia yang mendapatkan suntikan dana lebih dari 1 Trilyun dari softbank Jepang. Kemudian Lazada adalah sebuah e-commerce yang dimiliki oleh Rocket Internet, Bukalapak yang mendapatkan 5 investor kelas dunia, dan masih banyak lagi yang lainnya. Intinya banyak lembaga atau perusahaan asing yg menaruh investasi nya di toko-toko online besar di Indonesia. Apabila uang di rekening ofisial mereka diangkut ke luar negeri, siapa yg bisa menyentuhnya? Sedangkan pemerintah sendiri belum bisa melindungi masalah ini karena belum adanya regulasi dan payung hukum soal e-commerce.

Lalu apa kesimpulannya?
Paling tidak, kita bisa mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga, bahwa kita perlu lebih berhati-hati apabila melakukan transaksi secara online. Dan bagi seller atau penyedia rekber sendiri seharusnya bisa memberikan informasi yang lebih detail. Misalnya mencantumkan alamat fisik tokonya, apabila punya toko fisik. Bagi penyedia rekber pun bisa mencantumkan alamat kantornya, apabila memang ada kantor fisik.

Apabila usaha jualan online dilakukan dirumah, ataupun usaha rekening bersama Anda pun belum meiliki kantor, maka tidak ada salahnya kalau Anda mencantumkan alamat rumah Anda. Toh niat Anda adalah berbisnis melalui online, tidak untuk menipu atau berniat kriminal. Bukankah begitu?

Selain juga bisa menjadi lebih dipercaya oleh buyer, maka hal ini juga bisa menjadi pengingat untuk Anda sendiri. Sebab apabila Anda hendak menipu (mungkin lagi khilaf atau kepepet), maka Anda akan teringat bahwa pembeli Anda yang sebelumnya sudah mengetahui informasi tentang Anda. Jadi mungkin ini senjata ampuh untuk mengurungkan niat Anda untuk menipu. Sebab secara otomatis Anda pun mungkin akan teringat oleh keluarga di rumah.

Nah dari pengalaman ini, Anda seorang pembeli juga bisa lebih teliti jika ingin membeli produk atau jasa secara online. Apakah seller ini memiliki toko fisik? Apakah seller ini mencantumkan alamat usaha atau mungkin alamat rumahnya (kalau usaha dilakukan dirumah)? Sudah berapa lama seller ini berjualan? Apakah seller ini menerima COD? Apakah seller ini juga berjualan ditempat lain? (Cek reputasinya di FJB lainnya), dan masih banyak hal-hal yang bisa dipertimbangkan! Jangan hanya karena dagangannya lebih murah, punya banyak cendol, lalu Anda mengabaikan hal-hal yang sebenarnya jauh lebih penting untuk dipertimbangkan.

 

Leave a Reply